Rabu, 24 Maret 2010

Banyumas Juara Penyebaran HIV/AIDS di Jateng

Oleh: Yanti Susanti*
Dalam Laporan Kasus AIDS Depkes periode Oktober-Desember 2008 , Jawa Tengah menduduki peringkat 10 besar Propinsi di Indonesia dengan jumlah kasus AIDS sebanyak 530 kasus. 23,8% atau 126 dari jumlah tersebut ditemukan pada para pengguna Narkoba suntik (penasun). Peringkat 10 besar propinsi ini memang sudah cukup lama disandang Jawa Tengah.
Bila kita perhatikan laporan Depkes tersebut lebih seksama, terlihat bahwa Kabupaten Banyumas ada di peringkat kedua setelah Kota Semarang dengan jumlah kasus AIDS masing-masing 64 dan 175 kasus.
Mungkin Anda melihat jumlah 64 kasus itu sebagai jumlah yang tidak banyak, namun demikian jumlah tersebut boleh jadi jauh lebih sedikit dari jumlah kasus yang sebenarnya ada. Artinya masih banyak kasus yang belum terungkap atau terlaporkan. Bila kita bandingkan dengan laporan estimasi populasi dewasa rawan terinfeksi HIV tahun 2006 dari Depkes, di diperkirakan ada 400 ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) di Banyumas.
Salah satu hal yang menyebabkan jumlah kasus ini under reported adalah belum baiknya sistem pencatatan dan pelaporan kasus HIV dan AIDS di tingkat layanan kesehatan maupun sektor terkait. Banyak orang yang tahu status HIV-nya tidak mau melaporkan karena tinginya stigma dan diskriminasi, jumlah klinik VCT yang masih kurang sehingga menyebabkan kurangnya akses populasi berisiko pada klinik VCT atau cakupan program yang belum menjangkau populasi berisiko secara optimal.
Estimasi Nasional Populasi dewasa rawan terinfeksi HIV yang dikeluarkan Depkes tahun 2006 menunjukkan bahwa di kabupaten ini populasi yang dominan tertular adalah pelanggan WPS (wanita pekerja seks) dengan jumlah 14,310 orang.
Respon pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah dikoordinasikan oleh Komisi Penanggulangan AIDS Propinsi dan Kab/Kota dengan dukungan penuh dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional. Peran dan fungsi KPA Propinsi dan Kabupaten sangat strategis untuk menggalang komitmen dari berbagai pihak.
Komitmen pemerintah daerah perlu diperkuat dan sudah saatnya pemda melihat kondisi epidemi AIDS di wilayahnya secara serius dan melakukan berbagai langkah strategis untuk mencegah dan menanggulanginya. Kerjasama erat dengan semua mitra dan sektor terkait di daerah untuk harmonisasi implementasi program sangat perlu untuk dilakukan
Jangan sampai lebih banyak lagi penduduk Banyumas yang tertular HIV karena biaya yang dikeluarkan untuk pengobatan dan perawatan orang dengan HIV AIDS (ODHA) akan jauh lebih besar dibandingkan biaya pencegahan penularan. Selain itu dampak HIV dan AIDS di segala bidang kehidupan di kemudian hari bisa lebih dahsyat bila tidak bertindak sekarang.
*Staf Monioring dan Evaluasi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional, alumni Faperta UNSOED 2001, Pengurus SEF UNSOED 1996.

Jumat, 19 Maret 2010

Jangan Berlebihan Konsumsi Antioksidan – Berbahaya

Memang benar, segala sesuatu yang berlebihan itu berbahaya. Jika mengkonsumsi makanan ato minuman, konsumsilah secukupnya. Masih ingat dengan anjuran "berhentilah makan sebelum kenyang"?

Demikian juga halnya dengan antioksidan. Pakar nutrisi mengklaim antioksidan sebagai makanan super atau superfood yang bisa melawan hampir semua penyakit, terutama kanker. Tapi hati-hati, antioksidan yang dikonsumsi overdosis justru memicu senyawa pro-oksidan.

Antioksidan adalah senyawa yang bisa mencegah atau menghambat terjadinya proses oksidasi yang berbahaya bagi tubuh karena memicu sel-sel radikal bebas. Sel-sel radikal bebas dan tidak terkendali inilah yang menyebabkan penyakit-penyakit tertentu, umumnya kanker.

Karena bisa mencegah dan melawan penyakit, antioksidan diklaim bisa memperpanjang umur. Tak hanya itu, antioksidan juga bisa meningkatkan kemampuan seksual dan masih banyak manfaat lainnya.

Tapi kini peneliti dari Kansas State University, Amerika membuktikan bahwa antioksidan dalam dosis tinggi bisa menjadi bumerang bagi tubuh.

Antioksidan hanya akan berfungsi ketika ada senyawa pro-oksidan (pemicu proses oksidasi) dalam tubuh. Ketika dosis antioksidan dan pro-oksidan tidak seimbang atau kadar antioksidan tinggi sedangkan pro-oksidan rendah, maka tubuh akan membentuk senyawa pro-oksidan untuk menyeimbangkan kadarnya dengan antioksidan, dan hal ini akan membuat sel-sel radikal bebas tidak bisa diperbaiki lagi.

"Banyak orang percaya bahwa dengan makan antioksidan sebanyak-banyaknya, manfaat untuk tubuh juga akan semakin banyak. Tapi ternyata itu salah, antioksidan dosis tinggi justru menghasilkan fungsi yang bertolak belakang, yaitu menyebabkan otot-otot melemah, nafas pendek, aliran oksigen dalam darah terhambat bahkan mempercepat penuaan," kata si peneliti, Steven Copp seperti dilansir Dailymail, Sabtu (30/1/2010).

Untuk itu sebaiknya perhatikan lagi konsumsi brokoli, wortel, tomat, blueberry, kedelai, dan makanan berantioksidan lainnya, jangan sampai berlebihan.